Update: 24 Februari 2015-09:28
Agribisnis Berbasis Peternakan di Sukabumi
BANK Indonesia (BI) Bandung terus mendorong terciptanya stabilitas harga pangan. Salah satunya, menjaga sisi penawaran yang dinilai bisa meningkatkan kekuatan ekonomi nasional. Dorongan ini bukan sekadar wacana, tapi juga merealisasikannya.
Buktinya, BI Bandung menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi terkait pengembangan sapi potong di Kampung Ternak Hasanah, Desa Pagelaran, Kec. Purabaya, Kab. Sukabumi, Jawa Barat.
Penandatanganan MoU dilakukan langsung oleh Kepala Perwakilan BI Dian Ediana Rae dan Bupati Sukabumi Sukma Wijaya, yang disusul dengan saling menukar cendera mata.
Dalam kesempatan itu, Dian mengatakan, sisi penawaran yang terjaga diyakini akan berdampak pada kestabilan harga, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan ekonomi nasional.
Sementara itu, Bupati Sukabumi Sukma Wijaya mengatakan, pihaknya menyambut baik kerjasama, sekaligus memberikan apresiasi yang besar terhadap pengembangan sapi potong di wilayahnya.
“Kami berkomitmen untuk bisa terus membantu dan memberikan tempat atau lahan dalam pengembangan sapi potong di Pagelaran, Purabaya, Kabupaten Sukabumi,” ujar Sukma di hadapan para pejabat petinggi BI, para wartawan se-Jawa Barat dan Banten, serta kelompok tani, dan para tokoh setempat.
Selain penandantanganan MoU, BI juga menggelar seminar bertajuk, “Keuangan Inklusif dan Strategi Pengembangannya” dengan menghadirkan pembicara, Rizky dan Asisten Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Muslimin Anwar.
Kegiatan dalam rangkaian Pelatihan Wartawan KPw Bank Indonesia Wilayah VI tahun 2014 itu berlangsung di Aula Pondok Hexa, Ujung Genteng Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan yang diikuti sejumlah wartawan Jabar-Banten itu, membahas berbagai kondisi dan strategi pengembangan untuk keuangan inklusif di Indonesia.
Melalui keuangan inklusif, kata Rizky, pihaknya ingin mengajak semua orang untuk menabung dan memberikan pemahaman untuk tidak hidup konsumtif. “Keberadan uang cash dinilai akan lebih besar boros, sehingga diperlukan strategi pengembangan yang baik, tentunya hal yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.
Asisten Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Muslimin Anwar yang juga tampil sebagai salah satu pembicara dalam seminar itu, memaparkan seputar ekonomi makro dan kebijakan moneter dan perkembangannya, termasuk prospek dan risiko perekonomian di Indonesia.
Melalui kegiatan yang berlangsug selama tiga hari tersebut, BI berharap, pihaknya bisa menjalin komunikasi, sekaligus mendekatkan hati untuk kinerja lebih baik dengan para wartawan se-Jawa Barat dan Banten. (Noval Rifki)






0 komentar:
Posting Komentar